ANDIKA DHARMA HADIKUSUMA. International Relations, University of Brawijaya Malang. Contact me: Line: andikadhk IG: andikadhk
Thursday, April 20, 2017
Monday, April 10, 2017
REVIEW ISU ISU NEGARA BERKEMBANG W6
Isu lingkungan dalam pembangunan
oleh : Andika Dharma Hadikusuma
NIM : 145120400111015
Tragedy of commons atau tragedi kepemilikan bersama merupakan suatu konsep yang
menggambarkan kondisi dimana sumberdaya dianggap menjadi milik bersama, karena hal
tersebut, maka pemanfaatan sumberdaya menmgalami dilemma karena masyarakat berusaha
untuk memanfaatkan secara maksimal sehingga terjadi eksploitasi alam yang berlebihan
untuk kepentingan dan keuntungan pribadi dengan asumsi bahwa sumberdaya milik bersama
akan dieksploitasi juga oleh orang lain suatu saat nanti, maka setiap ada kesempatan
masyarakat akan selalu mencoba untuk mengeksploitasi alam sebesar-besarnya. Hal ini
mungkin akan berdampak menguntungkan dalam jangka pendek bagi orang yang melakukan
eksploitasi, namun dampak jangka panjangnya ke alam akan menjadi masalah besar
ditanggung bukan hanya pelaku eksploitasi tapi seluruh masyarakat.
Konsep Tragedy of commons sendiri akan semakin berat masalah yang ditimbulkan
ketika populasi masyarakat yang terus bertambah. Keadaan overpopulation akan semakin
menimbulkan banyak permasalahan lain terutama pada pengeksploitasian sumberdaya alam
karena tingkat konsumsi manusia juga meningkat. Hal tersebut diperparah dengan kebebasan
yang dimiliki oleh manusia yang dipergunakan secara tidak bertanggung jawab. Kebebasan
tersebut seakan menjadi alat manusia dalam logika Hardin, untuk melakukan
pengeksploitasian terhadap alam.
Melihat keadaan yang terjadi, dimana populasi manusia tidak bisa dilakukan
pengontrolan, maka menurut Hardin diperlukan melakukan pembatasan kebebasan sehingga
kebebasan yang dimiliki tidak diperlakukan secara tidak bijaksana. Hal tersebut salah satunya
adalah dengan membentuk sebuah moralitas yang akan menjadi langkah preventif yang
efektif untuk mencegah pengeksploitasian alam secara besar-besaran. Hal lain yang dapat
dilakukan adalah dengan membentuk mekanisme aturan untuk mencegah secara aktif
eksploitasi yang sudah terjadi akan diulang kembali.
Isu lingkungan dalam pembangunan
oleh : Andika Dharma Hadikusuma
NIM : 145120400111015
Tragedy of commons atau tragedi kepemilikan bersama merupakan suatu konsep yang
menggambarkan kondisi dimana sumberdaya dianggap menjadi milik bersama, karena hal
tersebut, maka pemanfaatan sumberdaya menmgalami dilemma karena masyarakat berusaha
untuk memanfaatkan secara maksimal sehingga terjadi eksploitasi alam yang berlebihan
untuk kepentingan dan keuntungan pribadi dengan asumsi bahwa sumberdaya milik bersama
akan dieksploitasi juga oleh orang lain suatu saat nanti, maka setiap ada kesempatan
masyarakat akan selalu mencoba untuk mengeksploitasi alam sebesar-besarnya. Hal ini
mungkin akan berdampak menguntungkan dalam jangka pendek bagi orang yang melakukan
eksploitasi, namun dampak jangka panjangnya ke alam akan menjadi masalah besar
ditanggung bukan hanya pelaku eksploitasi tapi seluruh masyarakat.
Konsep Tragedy of commons sendiri akan semakin berat masalah yang ditimbulkan
ketika populasi masyarakat yang terus bertambah. Keadaan overpopulation akan semakin
menimbulkan banyak permasalahan lain terutama pada pengeksploitasian sumberdaya alam
karena tingkat konsumsi manusia juga meningkat. Hal tersebut diperparah dengan kebebasan
yang dimiliki oleh manusia yang dipergunakan secara tidak bertanggung jawab. Kebebasan
tersebut seakan menjadi alat manusia dalam logika Hardin, untuk melakukan
pengeksploitasian terhadap alam.
Melihat keadaan yang terjadi, dimana populasi manusia tidak bisa dilakukan
pengontrolan, maka menurut Hardin diperlukan melakukan pembatasan kebebasan sehingga
kebebasan yang dimiliki tidak diperlakukan secara tidak bijaksana. Hal tersebut salah satunya
adalah dengan membentuk sebuah moralitas yang akan menjadi langkah preventif yang
efektif untuk mencegah pengeksploitasian alam secara besar-besaran. Hal lain yang dapat
dilakukan adalah dengan membentuk mekanisme aturan untuk mencegah secara aktif
eksploitasi yang sudah terjadi akan diulang kembali.
RESUME MATERI ISU ISU NEGARA BERKEMBANG W4
PRSPs sebagai fokus pembangunan internasional
oleh : ANDIKA DHARMA HADIKUSUMA
NIM : 145120400111015
Kemiskinan merupakan masalah yang menjadi konsen dunia
internasional setelah perubahan fokus pembangunan pada era washington
consesnsus yang awalnya berfokus kepada liberalisasi pasar, lalu bergeser fokus
menjadi pengentasan kemiskinan. Untuk mewujudkan fokus baru pengentasan
kemiskinan tersebut memerlukan pendefinisian ulang mengenai apa itu kemiskinan
untuk dapat mengetahui tolak ukur kemiskinan. Berikut adalah 11 definisi
kemiskinan:
1.
Kemiskinan merupakan sebuah kekurangan dalam hal
material, yang berarti seseorang dikatakan miskin jika tidak dapat memenuhi
kebutuhan sandang, papan, dan pangannya.
2.
Kemiskinan didefinisikan sebagai sebuah ketidakmampuan
individu atau keluarga untuk mencapai standar kehidupan masyarakat yang dilihat
dari jumlah pendapatan dan konsumsi.
3.
Kemiskinan juga dapat dilihat dari keterbatasan akses
terhadap sumber daya, fasilitas umum, dan layanan sosial.
4.
Kemiskinan dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan
mendapatkan keamanan. Yang artinya berkurangnya hak-hak individu juga dapat diartikan
sebagai sebuah kemiskinan.
5.
Kemiskinan diartikan sebagai ketidakmampuan mendapatkan
akses terhadap kebutuhan yang dibutuhkan. Ketidakmampuan mencukupi kebutuhan
merupakan sebuah kemiskinan.
6.
Kemiskinan didefinisikan sebagai kekurangan dalam
mendapatkan pendapatan yang cukup ataupun akses terhadap layanan sosial seperti
pendidikan dan kesehatan dalam beberapa waktu.
7.
Kemiskinan didefinisikan sebagai keterasingan suatu
individu dana tau kelompok dalam pola kehidupan sosial masyarakat.
8.
Kemiskinan diartikan sebagai tingkatan yang rendah yang
timbul akibat adanya kesenjangan dalam hal perekonomian.
9.
Kemiskinan didefinisikan sebagai sebuah kelas sosial
yang berada pada tingkatan bawah kehidupan masyarakat.
10. Kemiskinan diartikan
sebagai sebuah ketergantungan terhadap layanan social karena tidak mampu untuk
memenuhi kebutuhannya secara personal.
11. Kemiskinan
juga didefinisikan sebagai kepemilikan materi yang tidak dapat diterima
berdasarkan moral dan value masyarakat.
Post washington
consensus dalam focus barunya terhadap pengentasan kemiskinan menggunakan PRSPs
sebagai sebuah konsep dalam melakukan pembangunan di negara-negara berkembang. PRSPs
ini menjadi syarat negara berkembang untuk mendapat bantuan dari institusi
internasional sperti world bank dan IMF. Namun dengan konsep CDF, penerapan focus
pembangunan akan melibatkan negara dan juga masyarakatnya untuk berperan aktif
melaksanakan program pembangunan.
Wednesday, April 5, 2017
PERENCANAAN STRATEGIS
ORGANISASI INDONESIA MENDIDIK
oleh:
ANDIKA DHARMA HADIKUSUMA
(145120400111015)
P.S Hubungan
Internasional Universitas Brawijaya
*Perencanaan Strategis(Renstra) ini
dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Proyek Pembangunan berupa
perencanaan strategis organisasi yang bergerak di bidang pembangunan.
1. Identifikasi
ORIENTASI
Indonesia Mendidik
bekerja untuk mendukung pencapaian pembangunan generasi emas dan kemajuan
Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Lingkup IPM ini bekerja sesuai dengan tiga
pilar utama Indonesia Mendidik. Indonesia Mendidik berharap untuk mengambil
beberapa peran untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia
dengan memberikan kontribusi dalam tiga bidang pengukuran IPM yaitu: promosi
kesehatan, penyediaan pendidikan dan penciptaan kesejahteraan melalui Social
Enterprise. Pembangunan Generasi Emas yaitu untuk semua anak-anak untuk mencapai
pendidikan dasar universal. Kami percaya bahwa Pendidikan untuk Semua adalah
kunci untuk mencapai semua target Generasi Emas. Karena dengan pendidikan dapat
mengurangi kemiskinan dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
VISI
Melahirkan generasi emas dalam menyambut 100 tahun
Indonesia merdeka
MISI
1. Mengurangi angka
putus sekolah
2. Memfasilitasi
anak bangsa mengenyam pendidikan yang layak
3. Menyehatkan anak
bangsa
4. Memberikan
lifeskill kepada anak bangsa
5. Menanamkan
leadership skill kepada anak bangsa
6. Menanamkan jiwa
enterprenure kepada anak bangsa
7. Menanamkan dan
menerapkan konsep Nasionalisme kepada anak bangsa.
CITRA
Indonesia Mendidik hadir
bukan sebagai pengkritik atas kondisi pendidikan di Indonesia bukan pula hadir
sebagai pendukung roda pemerintahan melainkan sebagai mitra kritis,
konstruktif, innovative terhadap lembaga dan stakeholder yang memiliki tugas
dan tanggung jawab dalam pengembangan pendidikan di Indonesia.
Indonesia Mendidik telah melakukan pembacaan dan
analisa mendasar atas kondisi pendidikan di Indonesia. Beberapa hal dalam dunia
pendidikan segera perlu dibenahi diantaranya akses pendidikan, sarana dan
infrastruktur pendidikan, bahan pembelajaran dan ketersediaan tenaga pendidik
serta soft skill leadership yang sangat jarang dimiliki oleh generasi penerus
bangsa.
Oleh karena itu,
Indonesia Mendidik dengan sadar dan tanpa menunggu momentum hari ini telah dan
sedang terus berlangsung Gerakan 1.000.000 Pena sebagai simbol gerakan
Indonesia Mendidik untuk terus mengawal pendidikan di Indonesia.
Aksi dan gerakan
Indonesia Mendidik telah menyiapkan berbagai instrumen penunjang melalui
fasilitas dan sarana pendidikan, selain itu para praktisi dan pakar dalam
bidang soft skill leadership telah disiapkan untuk memberikan pencerahan dan
motivasi kepada anak bangsa untuk bangkit berkarya bersama Indonesia Mendidik
mengawal Gerakan Mencerdaskan Bangsa.
TUJUAN
1. Memastikan terbukanya akses
pendidikan seluas-luasnya bagi anak-anak usia sekolah untuk mendapatkan hak
mendasar mereka dalam mengakses pendidikan yang berkualitas tanpa ada
diskriminasi
2. Memastikan pendidikan yang dapat
mengidentifikasi minat dan bakat anak-anak Indonesia serta dapat membimbing dan
mengembangkannya agar menjadi manusia Indonesia paripurna.
3. Memastikan pendidikan berkarakter yang mengedepankan budi pekerti, disiplin dan etika yang menjadi esensi mendasar dari kemajuan peradaban Indonesia.
4. Memastikan pendidikan yang ramah dan sehat agar anak-anak merasa gembira berada di lingkungan sekolah dan menjaga keberlangsungan generasi dan masa depan anak Indonesia agar tumbuh sehat dan kuat.
5. Memastikan pendidikan yang memberikan keseimbangan antara kognitif, afektif dan psikomotorik agar anak-anak Indonesia berkembang menjadi manusia yang cerdas, luwes, terampil dan bijaksana.
3. Memastikan pendidikan berkarakter yang mengedepankan budi pekerti, disiplin dan etika yang menjadi esensi mendasar dari kemajuan peradaban Indonesia.
4. Memastikan pendidikan yang ramah dan sehat agar anak-anak merasa gembira berada di lingkungan sekolah dan menjaga keberlangsungan generasi dan masa depan anak Indonesia agar tumbuh sehat dan kuat.
5. Memastikan pendidikan yang memberikan keseimbangan antara kognitif, afektif dan psikomotorik agar anak-anak Indonesia berkembang menjadi manusia yang cerdas, luwes, terampil dan bijaksana.
Link
-internal
Sumber Daya Manusia
Organisasi Indonesia Mendidik merupakan organisasi yang keanggotaanya berupa
masyarakat yang ingin mendedikasikan hidupnya sebagai relawan untuk
melaksanakan program-programnya. Namun, koordinasi relawan dengan pengurus
organisasi dilakukan secara terpusat di Jakarta. Setiap tahun IM mengadakan Rapat
Kerja Nasional (Rakornas) untuk membahas tentang program kerja satu tahun
kedepannya.
Aset
Aset organisasi Indonesia Mendidik masih terbilang belum banyak karena
merupakan organisasi baru. Salah satu aset IM adalah kantor pusat yang berlokasi
di Jl. Sultan Iskandar Muda No. 8 Arteri Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Indonesia Mengajar belum memiliki kantor perwakilan di setiap daerah.
Selain itu, aset yang dimiliki IM adalah tiga rekening bank yang berbeda atas
nama Indonesia Mengajar untuk mengumpulkan donasi sebagai sumber pendanaan.
Aset lain IM berupa website yaitu http://www.indonesiamendidik.org,
email (info@indonesiamendidik.org), dan beberapa jenis media sosial seperti
facebook dan twitter.
Finansial
Dalam melakukan program-program kerjanya, IM menggunakan pendanaan yang
bersumber dari donasi dari seluruh masyarakat melalui rekening bank atas nama
Indonesia Mendidik.
Program
· Child
Sponsorship
Sponsorship memberikan
anak karunia yang cerah. Indonesia Mendidik memberikan dampak abadi bagi
anak-anak melalui kemitraan dengan menyediakan alat-alat yang memberdayakan
seluruh masyarakat untuk lebih mendukung kesehatan, pendidikan , perlindungan
anak-anak mereka dan pertumbuhan yang memutus siklus kemiskinan untuk generasi
mendatang. Sebagai Sponsor, Anda memberikan dorongan dan harapan untuk anak
Anda yang disponsori melalui pesan Anda, kartu ulang tahun dan banyak lagi.
Tindakan sederhana mengirim pesan membawa kebahagiaan yang tak terbayangkan
untuk ank disponsori Anda . Bahkan, banyak anak-anak memberitahu kita bahwa
mendengar dari sponsor mereka adalah puncak dari persahabatan mereka. Ketika
seorang anak tahu mereka memiliki seseorang di pihak mereka, mereka dapat
terinspirasi untuk bermimpi besar
· Education
Pendidikan adalah jalan yang anak ikuti untuk mencapai
potensi penuh mereka dalam kehidupan. Namun banyak anak-anak yang membutuhkan,
di seluruh Indonesia tidak mendapatkan pendidikan yang berkualitas di mana
mereka dapat belajar dan berkembang. Untuk memajukan pembelajaran, Indonesia
Mendidi mendukung program pendidikan bagi anak-anak di dalam kelas dan di rumah
· Social
Enterprise
Social Enterprise merupakan bisnis untuk mengatasi
masalah-masalah sosial, meningkatkan komunitas, kemungkinan kehidupan
masyarakat, atau lingkungan . Mereka membuat uang mereka dari menjual barang
dan jasa di pasar terbuka, tapi mereka menginvestasikan kembali keuntungan
mereka kembali ke dalam bisnis atau masyarakat setempat.
· Nationality
Test
Pengajuan kami dalam bentuk format tes nasionalisme
yang akan kami bentuk modul beracuan kepada pakar baik dari segi psikology
maupun daya tahan nasionalismenya.
· Ketahanan
Gizi
"pikiran yang sehat tumbuh dari tubuh yang
sehat" menjadi salah satu program kami dengan memperhatikan konsep gizi
dasar yang kami terapkan bagi anak-anak asuh kami.
Kelemahan
Karena IM sendiri merupakan organisasi yang baru dibentuk (Desember 2015),
dalam pelaksanaanya masih terdapat beberapa kekurangan yang dimiliki. Kekurangan
yang pertama adalah dari aspek infrastruktur dan finansial. Infrastruktur yang
dimiliki oleh IM hanya terbatas pada Jakarta dan tidak memiliki kantor
perwakilan di daerah yang tentunya akan menghambat kinerja program-program yang
ditujukan kepada daerah. Sementara itu dalam aspek finansial IM hanya
mengandalkan donasi masyarakat yang belum tentu besaran yang didapat untuk
mendukung berjalannya program kerja.
Kekurangan lain adalah dari aspek perencanaan program baik dari segi waktu dan
tempat. Perencanaan program dilakukan hanya dalam satu kali dalam satu tahun,
hal tersebut memungkinkan program kerja yang disusun akan menjadi kurang
efektif. Sementara itu dari segi tempat, perencanaan dilakukan hanya terpusat
di Jakarta yang membuat implementasi program diluar jakarta akan kurang efektif
karena tidak mempertimbangkan aspek tertentu pada daerah yang ingin dijangkau.
Prediksi perkembangan
Dengan melihat kondisi saat ini, perkembangan Indonesia Mendidik dapat
dikatakan lambat untuk mencapai tujuan organisasinya jika tidak dilakukan
beberapa perubahan yang progressif. Prediksi perkembangan yang lambat tersebut
didasarkan kepada kelemahan secara internal yang telah diidentifikasikan
sebelumnya.
-eksternal
Stakeholder
Keberlangsungan organisasi Indonesia Mendidik tentunya tak lepas dari
stakeholder sebagai penunjang berjalannya organisasi tersebut. Pemerintah yang
dalam hal ini adalah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai
penyelenggara pendidikan yang utama merupakan salah satu stakeholder yang
penting bagi organisasi IM. Kepala Daerah dan badan legislatif tentunya
juga merupakan stakeholder yang berpengaruh terhadap pendidikan di daerah yang
nantinya juga akan berkaitan langsung dengan program-program pendidikan di
tingkat daerah. Selain itu, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh politik
tertentu juga merupakan stakeholder sebagai pendukung keberlangsungan
pendidikan. Pihak lain yang menjadi stakeholder adalah tokoh-tokoh yang telah
mendukung keberlangsungan pendidikan dengan melakukan audiensi terhadap
organisasi IM seperti salah satunya adalah Pangkostrad TNI Letjen Edy Rahmayadi
yang telah melakukan audiensi dengan IM terkait dengan pendidikan. Pihak
penyelenggara pendidikan formal juga merupakan stakeholder yang penting.
Isu diluar
Seiring dengan dibukanya investasi yang luas di Indonesia, seringkali
perusahaan-perusahaan dalam berbagai bidang memilih memberikan kontribusi
sosial kedalam sektor pendidikan melalui Corporate Social
Responsibility (CSR). Dalam pengalokasian CSR tersebut, perusahaan
seringkali memilih mendistribusikannya dengan berbagai pertimbangan yang
matang. Seiring dengan hal tersebut, stakeholder yang berpengaruh dapat menjadi
nilai plus bagi perusahaan untuk mempertimbangkan alokasi CSR karena telah
memiliki nama yang cukup populer dan dianggap berdampak pula terhadap citra
perusahaan.
Prediksi
Dengan melihat kondisi saat ini, dimana Indonesia Mendidik telah menggaet
beberapa stakeholder yang memiliki pengaruh untuk mendukung keberlangsungan IM
itu sendiri, kesempatan terbuka lebar bagi IM untuk mendapatkan sumber
pendanaan yang baru dengan berharap pada alokasi dana CSR untuk melaksanakan
program kerjanya. Selain itu, bilamana pendanaan dari CSR tidak dapat diperoleh,
masih terbuka kesempatan yang luas juga untuk melakukan program kolaborasi
antara program IM dan program CSR perusahaan.
2. Analisa
SWOT
Strength
|
Weakness
|
Oportunity
|
Threat
|
1. Banyak kerjasama dengan stakeholder berpengaruh
2. Koordinasi program terpusat
3. Konsentrasi terhadap pendidikan yang merupakan concernpemerintah
4. Meliputi program penyediaan sarana fisik dan non-fisik
5. Fokus terhadap pendidikan bagi yang kurang mampu
|
1. Aset fasilitas hanya ada di Jakarta
2. Perencanaan program secara terpusat
3. Pendanaan hanya bersumber dari donasi
4. Terlalu mengandalkan relawan dalam implementasi
5. Perencanaan program hanya dilakukan secara tahunan
|
1.Kesempatan yang luas mendapat sumber pendapatan dari CSR
2. Kesempatan yang luas untuk kolaborasi dengan program CSR
3. Tiap daerah memiliki fokus pada pendidikan
4. Setiap perguruan tinggi memiliki program pengabdian masyarakat
|
1. Ancaman pada eksistensi organisasi netral jika kerjasama dengan CSR
2. Reputasi sebagai organisasi yang baru akan menghambat kesempatan
kerjasama
|
3. Isu
Strategis
Isu strategis dapat
dilihat melalui keterkaitan antara strength dan oportunity organisasi sehingga
didapatkan sebuah isu yang dapat berpengaruh untuk kemajuan IM sendiri. Isu
strategis yang ditemukan antara lain:
1. Banyak
kerjasama dengan stakeholder berpengaruh akan menjadi isu strategis jika
dikaitkan dengan kesempatan untuk kerjasama dengan CSR perusahaan. Stakeholder
berpengaruh akan menjadi jembatan yang efektif untuk menjadi agen link ke
perusahaan.
2. Fokus
terhadap persoalan pendidikan akan menjadi isu strategis dalam kaitannya dengan
oportunity saat setiap daerah memiliki konsen juga dalam pendidikan, sehingga
kesempatan untuk ekspansi untuk memperluas organisasi dapat dilakukan di level
daerah juga.
Wednesday, March 8, 2017
RESUME W3 MANAJEMEN PROYEK PEMBANGUNAN
Andika Dharma Hadikusuma (145120400111015)
Proyek
secara definisi merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada
jangka waktu dan menggunakan sumberdaya tertentu untuk mencapai sebuah tujuan. Dalam
melaksanakan suatu proyek, dibutuhkan manajemen yang tepat untuk mengarahkan
jalannya proyek agar tepat dengan tujuan yang ingin dicapai. Reza Primahendra
dalam bukunya menggambarkan manajemen proyek sebagai sebuah siklus kegiatan
yang harus dilakukan yang terdiri dari 5 bagian, bagian tersebut antara lain: penilaian
kelayakan proyek, desain proyek, rencana kerja, implementasi, dan monitoring.
Penilaian
kelayakan proyek adalah sebuah kegiatan dimana akan dirumuskannya kelayakan
proyek yang nantinya akan memberikan rekomendasi terkait proyek tersebut layak
untuk dilanjutkan atau tidak. Penilaian kelayakan proyek dilakukan dengan
banyak tahapan, antara lain: verifikasi lapangan, pengumpulan data, analisa
potensi lokal, analisa pemangku kepentingan. Dengan tahapan tersebut barulah
dirumuskan suatu rekomendasi. Setelah penilaian kelayakan proyek, tahapan
selanjutnya adalah melakukan desain proyek. Desain proyek berisi tentang
penetapan apa saja yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan proyek tersebut yang
berisikan tujuan, goals, resiko, dll dengan menggunakan matriks pengelola
pembangunan. Lalu tahapan selanjutnya adalah rencana kerja yang berisi tentang
penjabaran daripada desain proyek. Rencana kerja antara lain berisi tentang
target kegiatan, kerangka waktu, penanggung jawab, sumber daya dan budgeting
menggunkan matriks rencana kerja.
Setelah
ketiga tahapan awal yang merupakan tahapan perencanaan, masuklah ke tahap
berikutnya yaitu tahap implementasi yang artinya segala kegiatan yg telah
dirumuskan akan dieksekusi pada tahap ini. Pada tahapan implementasi diperlukan
membentuk koordinasi yang kuat dan konsistensi terhadap rencana. Tahapan implementasi
memerlukan manajemen kualitas yang terdiri dari 4 hal, yaitu: plan (perencanaan
kegiatan harian yang sesuai dengan kerangka waktu), do (melaksanakan kegiatan
harian dengan optimal), check (memerikasa realisasi rencana dan penyimpangan),
dan act (melaksanakan tindakan perbaikan). Tahapan terakhir adalah monitoring.
Monitoring juga merupakan bagian yang penting bagi berjalannya sebuah proyek
karena akan mengevaluasi proyek secara keseluruhan meliputi: kegiatan,
indikator, temuan, dan analisa. Pada tahapan ini juga dirumuskan rekomendasi
terkait dengan hasil evaluasi.
Secara
keseluruhan manajemen proyek memang sangat diperlukan. Karena proyek tidak akan
berjalan lancar tanpa adanya perencanaan yang matang, implementasi yang
optimal, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan melakukan manajemen proyek,
diharapkan proyek yang dilakukan akan memberikan dampak sesuai dengan target
yang ingin dicapai dengan meminimalisasi kesalahan dan pengerjaan yang optimal.
SUMBER:
Farhad Noorbakhsh. “Project Cycle
Revisited”. Development Management Program Series No.2. & Riza
Primahendra. “Manajemen Proyek Bagi Organisasi Sosial.
Monday, March 6, 2017
MDGs SEBAGAI PARADIGMA PEMBANGUNAN
Review Isu Isu Negara Berkembang W3
Andika Dharma Hadikusuma
145120400111015
Kemiskinan merupakan permasalahan yang sulit untuk
diselesaikan, terutama bagi negara-negara berkembang yang belum memiliki
kemampuan yang cukup dalam hal perekonomian. Selain kemiskinan, permasalahan
sosial yang lain seperti kesehatan dan pendidikan juga menjadi masalah bagi
negara berkembang. MDGs (Millenium Development Goals) yang dibentuk dari
kesepakatan negara-negara yang tergabung dalam PBB pada tahun 2000 hadir
sebagai sebuah paradigma pembangunan yang baru yang tidak hanya menekankan
kepada permasalahan ekonomi, melainkan juga mencakup masalah sosial. MDGs memberikan
cakupan target-target yang harus dicapai oleh negara dalam melaksanakan proses
pembangunan.
Penerapan
MDGs sebagai paradigma pembangunan yang baru menargetkan target-target yang
telah ditetapkan dapat tercapai dalam satu periode pembangunan yaitu 15 tahun
(2000-2015). Dalam penerapan MDGs selama kurun waktu tersebut, MDGs dapat dikatakan
berhasil mencapai target - targetnya pada negara berkembang. Pengurangan
kemiskinan yang menjadi salah satu target MDGs cukup terasa dampaknya dengan
berkurangnya kemiskinan sebesar 15% pada 2015. Target lain yaitu masalah
pendidikan dan kesehatan juga ikut membaik meskipun tidak begitu besar dengan
89% peningkatan pendidikan (dari sebelumnya 82%) di negara-negara sub-saharan
afrika, dan angka kematian bayi yang juga menurun di negara-negara yang
menerapkan MDGs. Hal lain yang telah dicapai oleh MDGs adalah keberhasilan
dalam membuat aliran dana bantuan luar negeri yang meningkat mencapai angka
$129 miliar setelah sebelumnya terjadi kelesuan akibat berakhirnya perang
dingin.
Namun
penerapan MDGs tidak lepas dari kritik, MDGs dianggap telah gagal mempengaruhi
mindset kebijakan dari negara-negara donor. MDGs juga dianggap terlalu
mengandalkan target-target pembangunan internasional sebagai paradigma pembbangunan
yang harus dicapai tanpa berkonsultasi dengan negara-negara berkembang sehingga
mengabaikan konteks lokal dalam menjalankan pembangunan. Selain itu MDGs juga
mengabaikan beberapa agenda pembangunan yang dianggap penting seperti agenda
lingkungan, HAM, good governance, dan agenda keamanan. Isu isu yang belum
termuat pada MDGs akhirnya dimuat dalam post-MDGs yang akan menjadi penerus
MDGs pada periode 2015-2030 sebagai paradigma pembangunan yang baru. Hal
tersebut tentunya tidak terlepas dari evaluasi yang dilakukan setelah era MDGs.
Wednesday, March 1, 2017
Review Mata Kuliah Manajemen Proyek Pembangunan W2
oleh: Andika Dharma Hadikusuma
NIM: 145120400111015
oleh: Andika Dharma Hadikusuma
NIM: 145120400111015
Teori pembangunan merupakan teori yang timbul akibat
adanya ketimpangan antara negara barat dan negara dunia ketiga. Pembangunan dalam teori dan praktiknya
mengalami dinamika yang kompleks. Kompleksitas yang terjadi dikarenakan kondisi
dunia yang tidak membaik meskipun program pembangunan yang menganut teori
pembangunan konvensional tidak berdampak baik, bahkan memberikan dampak lebih
buruk kepada beberapa negara di dunia. Keadaan yang terjadi diluar ekspektasi
memunculkan 2 analisa besar terkait alasan hal tersebut terjadi.
Analisa pertama adalah karena teori pembangunan
konvensional mengacu kepada sistem pasar yang mana lebih menguntungkan kepada
golongan kaya dan tidak memberikan efek besar pada golongan miskin. Dan yang
kedua adalah tidak mungkin bagi orang-orang dunia ketiga untuk mencapai standar
pembangunan yang diterapkan oleh negara kaya, karena standar negara kaya juga
akan ikut naik dan tidak akan pernah mencapai titik temu.
Selain timbul analisa-analisa tersebut, timbul juga
perdebatan tentang teori pembangunan yang konvensional. Perdebatan tersebut
mengacu kepada bagaimana pembangunan seharusnya berjalan, apa yang harus dibangunan,
dan pembangunan untuk siapa. Perdebatan ini mengasilkan pemikiran pemikiran
baru mengenai alternatif dari konsep pembangunan. Pemikiran-pemikiran alternatif
tersebut menghasilkan indikator-indikator baru yang seharusnya dicapai pada
proses pembangunan yang tidak ada pada konsep pembangunan konvensional yang
hanya berfokus pada ekonomi berbasis GNP.
Meskipun telah banyak alternatif konsep pembangunan,
namun alternatif tersebut masih berlandaskan pada ekonomi. Konsep pembangunan
yang berdasarkan pada ekonomi tidak akan bisa berjalan baik bila di terapkan
pada negara dunia ketiga karena kemampuan produksinya masih bergantung pada
perekonomian yang tentunya lemah.
Sunday, February 26, 2017
REVIEW MATA KULIAH ISU-ISU NEGARA BERKEMBANG WEEK 2
by: Andika Dharma Hadikusuma
NIM: 145120400111015
by: Andika Dharma Hadikusuma
NIM: 145120400111015
Proses pembangunan dalam dunia internasional tidak
terlepas dari aktor negara maupun aktor internasional, aktor internasional
dalam hal ini adalah institusi Bretton Woods. Pada negara-negara berkembang proses
pembangunan seringkali terhambat karena krisis atau keterbatasan kemampuan
ekonomi. Institusi Bretton Woods memiliki fungsi untuk berfokus kepada
negara-negara berkembang agar tetap dapat menjalankan program pembangunannya
dengan efektif. Namun pendekatan yang digunakan institusi Bretton Woods telah
mengalami beberapa perubahan seiring dengan munculnya berbagai perdebatan
terkait efektifitas pendekatan yang digunakan.
Pendekatan
awal yang digunakan oleh institusi Bretton Woods menggunakan Washington Consensus.
Pendekatan ini mengadopsi nilai-nilai neoliberal dalam pengaplikasiannya. Pendekatan
ini diwujudkan dengan Structural Adjustment Programmes (SAPs) yang berisikan
anjuran untuk membuka perekonomian dan investasi negara, mengurangi peran
pemerintah, dan menyerahkan perekonomian terhadap pasar dengan harapan untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Banyak negara berkembang yang beralih sistem
perekonomiannya dan menerapkan SAPs karena menjadi syarat mendapatkan pinjaman
dari World Bank. Namun pendekatan ini banyak mendapatkan kritik karena terlalu
fokus untuk menciptakan kondisi pasar daripada memberikan perhatian pada
kemiskinan.
Setelah
pendekatan Washington Consensus dianggap tidak berbuah seperti apa yang
dikonsepkan, muncul pendekatan baru yaitu dengan Post Washington Consensus yang
diwujudkan dengan Comprehensive Development Framework (CDF) yang difokuskan
untuk memerangi kemiskinan. CDF sendiri memberikan peran terhadap negara dalam
perekonomian untuk ikut campur agar kesejahteraan merata dan juga mengatur
dimensi sosial dan politik agar mendukung perekonomian. Pendekatan Post
Washington Consensus secara umum dapat dikatakan telah merubah fokus institusi
Bretton Woods dari menciptakan pertumbuhan ekonomi kepada pengurangan
kemiskinan. Namun Post Washington Consensus dianggap hanya sebagai wacana tanpa
memberikan strategi yang masif pada ranah praktis dan gagal mereformasi sistem
ekonomi internasional yang merugikan negara berkembang.
Secara
umum dapat dikatakan bahwa pendekatan yang digunakan oleh institusi Bretton
Woods sampai saat ini belum menemukan bentuk yang mendukung negara-negara
berkembang. Bahkan pendekatan-pendekatan tersebut masih berpihak kepada negara
maju pemilik modal. Hal tersebut tidak dapat terlepas dari institusi Bretton
Woods sendiri yang merupakan institusi politik yang tidak akan pernah “netral”.
Perpolitikan internasional juga mempengaruhi institusi tersebut dalam membuat
kebijakan yang tentunya akan tetap mengusahakan keuntungan bagi negara-negara
pemilik modal.
Subscribe to:
Comments (Atom)
