MDGs SEBAGAI PARADIGMA PEMBANGUNAN
Review Isu Isu Negara Berkembang W3
Andika Dharma Hadikusuma
145120400111015
Kemiskinan merupakan permasalahan yang sulit untuk
diselesaikan, terutama bagi negara-negara berkembang yang belum memiliki
kemampuan yang cukup dalam hal perekonomian. Selain kemiskinan, permasalahan
sosial yang lain seperti kesehatan dan pendidikan juga menjadi masalah bagi
negara berkembang. MDGs (Millenium Development Goals) yang dibentuk dari
kesepakatan negara-negara yang tergabung dalam PBB pada tahun 2000 hadir
sebagai sebuah paradigma pembangunan yang baru yang tidak hanya menekankan
kepada permasalahan ekonomi, melainkan juga mencakup masalah sosial. MDGs memberikan
cakupan target-target yang harus dicapai oleh negara dalam melaksanakan proses
pembangunan.
Penerapan
MDGs sebagai paradigma pembangunan yang baru menargetkan target-target yang
telah ditetapkan dapat tercapai dalam satu periode pembangunan yaitu 15 tahun
(2000-2015). Dalam penerapan MDGs selama kurun waktu tersebut, MDGs dapat dikatakan
berhasil mencapai target - targetnya pada negara berkembang. Pengurangan
kemiskinan yang menjadi salah satu target MDGs cukup terasa dampaknya dengan
berkurangnya kemiskinan sebesar 15% pada 2015. Target lain yaitu masalah
pendidikan dan kesehatan juga ikut membaik meskipun tidak begitu besar dengan
89% peningkatan pendidikan (dari sebelumnya 82%) di negara-negara sub-saharan
afrika, dan angka kematian bayi yang juga menurun di negara-negara yang
menerapkan MDGs. Hal lain yang telah dicapai oleh MDGs adalah keberhasilan
dalam membuat aliran dana bantuan luar negeri yang meningkat mencapai angka
$129 miliar setelah sebelumnya terjadi kelesuan akibat berakhirnya perang
dingin.
Namun
penerapan MDGs tidak lepas dari kritik, MDGs dianggap telah gagal mempengaruhi
mindset kebijakan dari negara-negara donor. MDGs juga dianggap terlalu
mengandalkan target-target pembangunan internasional sebagai paradigma pembbangunan
yang harus dicapai tanpa berkonsultasi dengan negara-negara berkembang sehingga
mengabaikan konteks lokal dalam menjalankan pembangunan. Selain itu MDGs juga
mengabaikan beberapa agenda pembangunan yang dianggap penting seperti agenda
lingkungan, HAM, good governance, dan agenda keamanan. Isu isu yang belum
termuat pada MDGs akhirnya dimuat dalam post-MDGs yang akan menjadi penerus
MDGs pada periode 2015-2030 sebagai paradigma pembangunan yang baru. Hal
tersebut tentunya tidak terlepas dari evaluasi yang dilakukan setelah era MDGs.
No comments:
Post a Comment