Monday, March 6, 2017

MDGs SEBAGAI PARADIGMA PEMBANGUNAN
Review Isu Isu Negara Berkembang W3
Andika Dharma Hadikusuma
145120400111015 

Kemiskinan merupakan permasalahan yang sulit untuk diselesaikan, terutama bagi negara-negara berkembang yang belum memiliki kemampuan yang cukup dalam hal perekonomian. Selain kemiskinan, permasalahan sosial yang lain seperti kesehatan dan pendidikan juga menjadi masalah bagi negara berkembang. MDGs (Millenium Development Goals) yang dibentuk dari kesepakatan negara-negara yang tergabung dalam PBB pada tahun 2000 hadir sebagai sebuah paradigma pembangunan yang baru yang tidak hanya menekankan kepada permasalahan ekonomi, melainkan juga mencakup masalah sosial. MDGs memberikan cakupan target-target yang harus dicapai oleh negara dalam melaksanakan proses pembangunan.
            Penerapan MDGs sebagai paradigma pembangunan yang baru menargetkan target-target yang telah ditetapkan dapat tercapai dalam satu periode pembangunan yaitu 15 tahun (2000-2015). Dalam penerapan MDGs selama kurun waktu tersebut, MDGs dapat dikatakan berhasil mencapai target - targetnya pada negara berkembang. Pengurangan kemiskinan yang menjadi salah satu target MDGs cukup terasa dampaknya dengan berkurangnya kemiskinan sebesar 15% pada 2015. Target lain yaitu masalah pendidikan dan kesehatan juga ikut membaik meskipun tidak begitu besar dengan 89% peningkatan pendidikan (dari sebelumnya 82%) di negara-negara sub-saharan afrika, dan angka kematian bayi yang juga menurun di negara-negara yang menerapkan MDGs. Hal lain yang telah dicapai oleh MDGs adalah keberhasilan dalam membuat aliran dana bantuan luar negeri yang meningkat mencapai angka $129 miliar setelah sebelumnya terjadi kelesuan akibat berakhirnya perang dingin.
            Namun penerapan MDGs tidak lepas dari kritik, MDGs dianggap telah gagal mempengaruhi mindset kebijakan dari negara-negara donor. MDGs juga dianggap terlalu mengandalkan target-target pembangunan internasional sebagai paradigma pembbangunan yang harus dicapai tanpa berkonsultasi dengan negara-negara berkembang sehingga mengabaikan konteks lokal dalam menjalankan pembangunan. Selain itu MDGs juga mengabaikan beberapa agenda pembangunan yang dianggap penting seperti agenda lingkungan, HAM, good governance, dan agenda keamanan. Isu isu yang belum termuat pada MDGs akhirnya dimuat dalam post-MDGs yang akan menjadi penerus MDGs pada periode 2015-2030 sebagai paradigma pembangunan yang baru. Hal tersebut tentunya tidak terlepas dari evaluasi yang dilakukan setelah era MDGs.  

             

No comments:

Post a Comment